//
you're reading...
Ilmu

Seandainya saya Menjadi Fasilitator Bunda Sayang..

Menjadi Fasilitator Bunda Sayang, adalah langkah yang belum saya pikirkan sebelumnya. Masih belum berani melangkah di zona baru. 😁 Namun pendaftaran fasilitator matrikulasi terlewatkan, dan sepertinya memang saya harus “dikeluarkan” dari zona santai. Dan pesan singkat dari kordi batam yang berkali-kali mengingatkan untuk segera mendaftar akhirnya tulisan ini saya buat. πŸ˜‚

Saya dan Bunda Sayang
Saat ini saya sudah di level 11 kelas bunda sayang batch 2 kelas sumatera 1. Dimateri ini diminta β€œlearning by teaching”. Mencari sendiri materi dan mempresentasikannya. Selama level 11 sibuk mencari materi sendiri. Dan ternyata learning by teaching itu lebih mengena dan berasa. Langsung dapat β€œaha” nya. Bahwa nanti jika saya menjadi fasilitator di kelas bunda sayang tentu lebih berasa lagi materinya dibandingkan sebagai peserta kelas. Sama seperti saat matrikulasi.

Sejak bergabung di ibu profesional dan mengenal kata berbagi dan melayani, saya benar-benar bahagia bisa menjadi bagian dari ibu profesional. Karena saya ingin selalu berbagi semangat bersama para ibu dan calon ibu lainnya seperti saya selalu di semangati. Dan mba yani fasilitator kami di grup fasilitator matrik juga mengatakan komitmen dan konsistensi Fasil Bunsay itu ternyata lebih baik daripada Fasil Matrik. Sehingga Bu Septi menambah dengan satu afirmasi lagi yaitu tangguh.
Dikatakan jika Fasil Bunsay benar-benar sebuah ujian ketangguhan perjalanan seorang fasilitator sejati agar tetap komitmen dan konsisten dengan value IIP. Hmm bagaimana jika saya nanti yang menjadi fasilitator? Tangguhkah saya? Saya ingin menjadi ibu yang tangguh, maka saya mencoba menjadi fasilitator bunda sayang untuk menguji ketangguhan saya. Dan setelah melewati 11 materi bunda sayang sekarang saya ingin belajar menjadi fasilitator bunda sayang.

Saya dan Mba Noni
Perjalanan leader camp menorehkan banyak cerita bagi saya. Termasuk pertemuan dengan mba noni. Beberapa hari yang lalu membaca kabar kalau mba noni harus menjalani pengobatan. Dibawahnya dituliskan “fasil bunda sayang”.

Jika ingin membuat banyak alasan untuk tidak menjadi fasil mba noni lah mungkin yang paling bisa. Tapi dia tidak melakukannya. Tetap menjadi fasilitator bunda sayang bahkan datang ke leader camp dengan semangat dan tersangkut di kamar saya di Semarang, mba noni benar-benar menjadi salah satu motivasi saya menjadi fasilitator bunda sayang berikutnya.

Mudah Memudahkan
Mendengar yel yel ini langsung bersama teman teman fasilitator lainnya, adalah salah booster saya menjadi fasilitator. Walau awalnya banyak alasan yang “ngarang”, akhirnya membaca kabar mba noni mengingatkan saya akan perjalanan ke Salatiga. Berjumpa dengan fasilitator lainnya, merasakan semangat untuk memudahkan ibu-ibu lain untuk meningkatkan kualitas dirinya.

Walau awalannya mudah, dan kenyataannya tidak mudah bagi saya terutama saat membaca respon peserta kelas wkwkwk gagal move on rasanya. Tapi jika menyerah berarti kalah. Maka sekarang saya ingin mencoba hal “mudah” ini lagi berharap dapat memperbaiki diri juga #mencobamoveon

Manajemen Diri
Ini adalah tantangan dari kekasih pujaan hatiku saat meminta restu dan izin untuk menjadi fasilitator. Dia tidak pernah mengatakan tidak untuk hal yang membuat istrinya berbinar.

Permohonan izin hanya dibalas satu kalimat “Jika bisa memanajemen diri dengan baik, silahkan”

Manajemen diri maksudnya apa yak? Ternyata diminta tugas utama sebagai ibu dan istri tidak terlalaikan. Dan tidak hanya sibuk dengan urusan diri sendiri. Jadi semuanya mulai time management sampai Gadget time dan lainya. Sebenarnya jadi evaluasi diri apa selama menjadi fasilitator matrik saya banyak melakukan kelalaian.

Walau tidak dilarang pernyataan yang disampaikan babang ini termasuk salah satu alasan maju mundur cantik sebagai fasilitator lagi.

Jadi seandainya saya menjadi fasilitator bunda sayang maka benar-benar banyak banget tantangan yang harus saya taklukkan. Termasuk melelehkan hati babang.

Remidial Terhormat
Dua kata ini berkali-kali disampaikan di kelas fasil matrik. Iyah saya sudah di level 11 bunda sayang. Sudah lebih dari 1tahun dikelas, seandainya nanri menjadi fadil bunda sayang bukankah luar biasa dapat kesempatan meremidial diri dengan terhormat. Sekaligus learning by teaching.

Fasilitator bukan berarti lebih baik
Acara gagal move on dari rapor matrikulasi masih berlangsung beberapa waktu. Terutama membaca rapor fasil. Hehehe benar-benar merasa akh iya banyak kurang saya. Akh iya sepertinya saya masih belum pantas menjadi fasilitator.

Tapi sekali lagi, menyerah berarti kalah. Jadi jika menjadi fasil bunda sayang saya punya banyak kesempatan memperbaiki diri, sekaligus meningkatkan kualitas diri dengan bertemu banyak fasilitator hebat lainnya.

Sebenarnya saya selalu dilarang babang berandai-andai dan mengucapkan kata seandainya. Jadi cukuplah harapan saya yang saya tulis disini menjadi motivasi bagi diri saya untuk selalu memperbaiki diri kedepannya. Kecup dikit. πŸ’‹

About UchanAqila

About me.... Ingin Menjadi Wanita Sholihat yang Menginspirasi muslimah & Mewujudkan Mimpi Banyak Orang | Percaya semua pasti bisa | Man Jadda WaJada

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

InstagramKu

Hari ahad yang lalu 14 April 2019 kami bersama komunitas HS Gemilang menggelar Garage Sale dalam rangka mengumpulkan donasi untuk kegiatan amal komunitas kami. Barang-barang yang dijual adalah barang baru atau masih sangat layak pakai yang kami miliki. Jam kegiatannya pagi sekali, pukul 06.00 wib pagi sudah ada yang sampai di lokasi. Sedangkan Aqila masih tidur nyenyang bersama selimut dan #guling kesayangannya "si orange" Karena rumah kami tidak jauh tentu saja kami berusaha datang cepat. Namun seperti biasa meyakinkan anak-anak yang malamnya tidur jam 11 malam untuk pergi pagi sekali itu adalah perjuangan. Alhamdulillah kami sampai pukul 07.00wib kurang. Setelah lama melihat teman-temannya ternyata semangat Aqila belum juga terbakar. Sedangkan semangat umi sendiri melihat bibi lain belum juga on. Gak dapat juga srmangatnya hehehe tumben yah umitu. Perlahan makin banyak bibi yang datang. MasyaAllah semangatnya luar biasa. Apalagi bifen dan bides yang berdiri semangat 45. Tiba-tiba ada bangkit dari tmepat duduknya dan mencolek umi. Umi Aqila tak tahan lagi. Hahaha kami pun lari terbirit-birit ke kamar mandi karena itu panggilan darurat Aqila yang sangat darurat. Lama sekali kami di kamar mandi karena kebiasaan kak Aqila memang begitu. Seking lamanya ternyata pas keluar ternyata sudah hujan lebat. Umi san Aqila kaget. Panggung alun-alum sudah ramai karena semua berteduh disini. Setrlah hujan reda kamipun bersiap-siap merapikan barang untuk pulang karena memang sudah ada beberapa barang yang basah. Walaupun diguyur hujan kami tidak akan patah semangat. Minggu depan kami ingin berjuang lagi. Semoga kegiatan amal komunitas kami berjalan lancar. Yang mau donasi sini umi bisikin no rekening haha
Saya gak tau apa yang ada di fikiran my lovely @muftifathonah saat saya sibuk menggunting dan merangkai topeng untuk anak-anak ini tengah malam. Yang pasti saya dipandangi sambil dia tersenyum sendiri. πŸ˜‚ "Kan adek jadi grogi bang, gemetaran pegang guntingnya. Saat ditanyain"Apasih senyum-senyum. Mau bantuin ya?" Cuma disenyumin lagi sambil geleng2 πŸ™„πŸ™„ Tapi yang penting sih ditemani walaupun cuma disenyum-senyumin. Terusss... Pagi-paginya heboh sendiri. Bang itu topeng daun tapi belum ada daunnya Please cariin daun sebelum berangkat yak πŸ˜‚πŸ˜‚ Apalah saya tanpa mu ya khaannn. πŸ’•πŸ’•πŸ’•
Sesungguhnya berkomunitas itu bukan memikirkan apa yang bisa kau dapatkan, tapi apa yang bisa kau berikan jika kau hadir disana. MasyaAllah tabarakallaah. Allah berikan kesempatan untuk bergabung bersama teman-teman sesama pelaku Homeschoolling dibatam. Walaupun saya masih baru, belum banyak ilmu, perlu banyak belajar, dan tidak bisa seaktif bibi-bibi yang lain dalam berkontribusi tapi kali ini berjuang sepenuh tenaga untuk menjadi PIC mingguan dengan tema Scavengers hunt. Ini adalah amanah yang menantang banget karena dengan suhu kota Batam yang bisa 32Β° anak-anak (toodler) malah diajak untuk mencari harta karun di kebun yang luas dan aduhai suhunya. Para bibi pun tak sanggup berkeliling lama apalagi anak2 yang harus diajak 2x berkeliling kebun. Karena lokasi kali ini cuma 2x gas motor dari rumah jadilah datang duluan. Menyapa pakTatang yang mengawasi tempat ini. Agenda pertama anak-anak diajak keliling kebun. Mengenali aneka bunga daun dan pohon yang sudah berbuah maupun belum. Sabar banget liat anak-anak pada kabur berlarian saat beliau menjelaskan wkwkwk Walau suhu aduhai tapi anak-anak semangat apalagi Aqila dengar paktatang bilang "ini pohon lengkeng" langsung bilang saya suuukaaa πŸ˜‚ Setelah keliling barulah masuk agenda scavengers hunt. Hmm gimana anak-anak ya saya aja rasanya pengen pulang nyari AC dan AS (air sejuk) Rencana awal pengen beli choco*** pesanan bibi untuk reward anak-anak. Tapi setelah isya saya berfikir itu gak cukup untuk mengembalikan semangat saat panas terik. Jadilah malam-malam pergi sendiri membeli perlengkapan untuk topeng daun. Alhamdulillah Aqila suka banget. Berarti bisa jadi indikator anak-anak lain bakalan syukaa juga. Rencananya mau bikin drama ala ala untuk membuka scavengers hunt tapi apa daya badan lemah batre badan low tinggi nya suhu kota batam tak terlawan 🌞 oleh badan jadilah dibuka dengan toa saja sambil memakai topeng. πŸ“’ Dan yeaii alhamdulillah pada semangat penngen semuaaa 🀣 Terimakasih bibi-bibi lain supportnya untuk saya hehehe maafkanlah pic minggu ini tak kuat kena panas. Aslinya dia takut sunburn tapi demi cintaku padamu wkwwk πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ #homeschoollingbatam #KomunitasHSGemilangBatam

MyChallenge

2014 Reading Challenge

2014 Reading Challenge
Eka has read 0 books toward her goal of 50 books.
hide
%d bloggers like this: